Breakfast , Breakfast and ‘Breakfast’

3wanitaSuatu pagi, di sebuah hotel tempatku menginap dalam rangka tugas ke Kantor Pusat Jakarta. Si Ajie, rekan kerjaku sudah duluan ke kantor, sedangkan Aku baru turun untuk sarapan. Hari ini rasa malas menghinggapku. Kalau Aku sarapan di hotel biasanya sebelum mencari tempat duduk aku ambil orange juice lebih dulu. Pagi itu dengan segelas orange juice di tangan Aku menebar mata mencari-cari kursi kosong di restoran hotel yang ramai ini. Di pojok sana kulihat ada satu yg kosong, tapi di tengah perjalanan menuju kursi kosong itu mataku tertumbuk pada 3 orang cewe yang mengelilingi meja berkapasitas 4 orang. Ketika Aku hampir melewati meja mereka, kulihat dua cewe diantaranya memandangku. Yang satu lagi posisi duduknya memunggungiku. Terjadi eye-contact. Cewe pertama, kulit putih, halus, rambut panjang lurus terurai, chuby-face dan sedikit agak gemuk. Yang kedua, kulit sawo cerah, wajah cantik, rambut sebahu rada berombak.

Ini sebuah test keberanian. Beranikah Aku duduk di kursi keempat yang memang kosong ?
Setelah sedetik eye-contact, bibirku membentuk senyuman yang kuusahakan semanis mungkin sambil sedikit mengangguk. Tak kusangka Si cantik berombakpun senyum, manis banget senyumnya, dan juga mengangguk. Aku langsung menikung menuju meja mereka.
“Kosong, mbak ?”tanyaku sopan. Cewe ketiga langsung memutar lehernya mencari arah datangnya suara (yang lembut..) dari mulutku. Wow…cakep juga.
“Lhah… emang ada yang duduk?”kata Si cantik-berombak sambil makin melebarkan senyumnya. Candaan langsung yang menandakan welcome.
“Kali aja ada orangnya yg lagi ke toilet”kataku. Aku langsung menaruh gelas dan duduk.
Diam beberapa saat. Ini bisa jadi akan menjadi rezeki bagiku, bagi pemalas yang sudah jam setengah 8 baru sarapan padahal seharusnya sudah berangkat ke kantor. Dalam hati Aku menyalahkan Si Ajie, teman sekamarku yang terlalu rajin pagi-pagi sudah berangkat kerja. Coba kalau dia pemalas seperti Aku, bisa kubagi dia dengan salah satu cewe-cewe manis ini. Ha..ha… seolah Aku sudah pasti akan mendapatkan makhluk-makhluk manis ini.
“Makasih nih … penuh semua kursinya”kataku memecah kebisuan.
Aku minum seteguk lalu bangkit untuk mengambil makanan.

Ketika Aku kembali ke meja percakapan mereka yang ramai mendadak berhenti. Ngomongin apa mereka ya. Lagi-lagi sunyi.
Aku menyantap makananku.
“Pada liburan atau apa nih”tanyaku. Bulan Juni-Juli ini memang masa liburan.
“Mas sendiri gimana?” tanya Si Chuby.
“Lagi ada kerjaan di sini”jawabku.
“Kalau kita-kita sih liburan terus…”kata Si Cakep sebelahku.
“Isterinya mana Mas”
“Masa isteri dibawa kerja… ya di rumah dong”jawabku.
“Lebih suka makan di warung daripada bawa rantangan ya…” kata Si berombak sambil ketawa yang disambut derai tawa dari dua kawannya.
Aku tahu makna gurauannya. Lelucon yang rada menjurus.
“Jelas dong, apalagi kalau penjualnya cakep-cakep dan muda…”
“Dasar lelaki….”celoteh Si Chubby.

“Suka makan di ‘warung’ mana Mas?” Gila. Belum juga kenalan, mereka sudah menohok begini.
Aku ketawa.
“Kok ketawa”
“Suka di warung ini”
“Ala…. mas pasti tahu apa yang aku maksud ‘warung’ kan” komentarnya lagi.
“Tahulah, makanya Aku bilang suka makan di sini. Habis ditemenin ama 3 ABG cakep…”
“ABG….. enak aja. Kita tuh udah dewasa, tahu”
“Bisa jadi, penampilan ABG tapi dewasa. Pertanyaannya adalah, dewasa dalam hal apa”kataku
“Dalam hal kelakuan orang dewasa dong”lanjutnya.
“Muter-muter ngomongnya… langsung aja, dalam bidang seks”kata Si Cakep yang disambung meledaknya ketawa mereka.
Kaget juga Aku.
“Wah… kebetulan nih…saya bisa belajar”
“Engga deng…becanda kok” kata dua orang lainnya hampir berbarengan.

“Mas udah lewat 30 ya…” tanya Si Manis rambut ombak tiba-tiba.
Hah ? Masa Aku terlihat lima tahun lebih tua? Mungkin karena pakaianku yang resmi kemeja+celana panjang rapih plus dasi, pakaian yang kubenci.
“Emang saya kelihatan tua ya”kataku.
“Bukan kelihatannya, tapi kelakuannya kaya lelaki mendekati puber kedua”
“Kelakuan yang gimana”tanyaku lagi
“Ini…. mata jelalatan, ngeliatin cewe mulu, jalan sendirian…”
“Saya berdua ama temen, cuman dia udah duluan ke kantor”
“Tapi ga bawa isteri kan?”
“Itu bukan ukuran”Aku membela diri.
“Kalau engga lagi puber pasti bawa keluarga”
Pikiran yang naif.
“Engga juga. Saya gabung ke sini yah karena lebih enak kan ngobrol ama cewe2 cakep…”
“Tadi bilangnya karena kursi penuh…”
“Itu kan alesan aja…”kataku.
“Na itu…. tandanya puber kedua”kata Si Cakep sebelahku.
Aku terdiam, tak menyangka ‘serangan’ seperti itu.
“Tuh kan diem …. berarti bener…”katanya lagi sambil ketawa.

“Kalau lagi puber biasanya suka selingkuh”kata cewe di depanku.
“Tergantung….”kataku
“Tergantung apaan”tanyanya lagi.
“Kalau sama kalian bertiga, jelas suka”Aku mulai serangan balik.
“Suka apa”
“Ga perlu dijelasin, kalau dah dewasa pasti tahulah…”

“OK. Seandainya, ini cuman seandainya ya …. Mas pilih mana diantara kita bertiga”tanya cewe sebelahku.
Gila. Ini masih dalam rangka bercanda atau apa nih.
“Udah saya bilang, saya pilih tiga-tiganya”
“Ga boleh, pilih satu aja”timpal Si Manis rambut berombak.
“Tunggu dulu…. pilih buat apa nih”
“Udah… pokoknya pilih dulu, entar kita kasih tau”
“Nama kalian aja gue belum tahu…” Sengaja Aku pilih kata ‘gue’, supaya terkesan akrab.
“Titin”kata Si Manis sambil mengulurkan tangan yang langsung kusambut dengan jabat erat.
“Itoy”kataku.
“Mimin”kata si chuby. kusalami juga.
“Ririn”kata Si cakep sebelahku.

Titin memang manis, kaya’nya tinggi kalau kulihat bentuk tubuh bagian atasnya. Bentuk dadanya sedang tapi terlihat kencang.
Mimin, yang paling putih, dadanya paling besar juga, sesuai dengan bentuk tubuhnya yang agak gemuk.
Ririn, langsat, lebih tinggi dari Mimin tapi tak setinggi Titin, wajahnya cakep tapi tak semanis Titin. rambut pendek pas seleher.
Bingung Aku memilihnya.
“Cowo sama aja, habis ngeliatin muka pasti ke dada” kata Titin. Rupanya dia mengikuti terus arah bola mataku.
“Cepetan pilih yang mana, yang toketnya gede dia nih… “kata Ririn sambil nunjuk Mimin Si putih chuby.
Mimin bukannya malu, tapi malah menegakkan badan sehingga dadanya membusung. Gila ! Emang bener gede.
“Okay, pilihan gue ini cuma berdasarkan fisik doang ya…. gue kan baru kenal kalian belum setengah jam”kataku.
“Whatever lah….”sahut Titin.
“Gue pilih kamu”kataku sambil menepuk pundak Ririn.
“Alesannya ?”kata mereka berbarengan.
“Gak ada alesan. Trus kalo udah pilih, what next?”tanyaku.

“Udah aja. Cuman ngetest…”kata Mimin.
“Yee… itu namanya ingkar janji”
“Sapa juga yang janji…. “kata Ririn dan Tintin.
“Udah, ganti topik”sahut Mimin.
“Engga bisa, kalian musti kasih tahu dulu”kataku.
Dengan berbagai kilah mereka tetap tak mau memberi tahu kenapa Aku suruh memilih. Sampai Mimin, sepertinya ‘sang pemimpin’ kemudian bilang :
“Udah…. Mas ambil makanan lagi gih… ”
“Dah kenyang gue…”sahutku.
“Mau tahu engga ?”kata Mimin lagi.
“Okay deh” Aku bangkit.
“Agak lamaan ya…”katanya lagi.

Aku ambil teh dan buah-buahan, dan balik lagi.
“So….?” tanyaku.
Mereka saling berpandangan.
“Mas sendirian?”
“Sekarang iya. Temenku dah berangkat”
“Mas mo ngantor juga”
Iya sebetulnya, tapi karena Aku penasaran bisa kutunda barang sejam. Tinggal nyari-nyari alasan buat telat lama.
“Masih ada…. sejamlah”kataku sambil melihat arloji.
“Di kamar berapa?”
Kusebutkan nomor kamarku.
“Tunggu aja di kamar, entar kita kesana”masih kata Mimin.
Aku langsung bangkit, semangat banget…
“Habisin dulu buahnya….”
Aku sudah tak selera lagi.

***
Hanya 5 menit Aku di kamar, pintu diketuk. Kubuka pintu dan mereka bertiga cepat-cepat masuk. Pintu kukunci.
Mimin dan Tintin duduk di sofa, Ririn duduk di ranjang. Aku juga duduk di ranjang di sebelah Ririn, tak ada lagi kursi tersisa.
“Jadi gimana?”tanyaku. Bertiga ngakak.
“Bener pengin tahu…?”kata Mimin.
“Iya dong, kalian bikin penasaran gue aja”
“Engga kaget”
“Mungkin”
“Gini………. ”
Diam lagi.
“Elo aja yang bilang….”kata Mimin ke Titin
“Engga. Elo aja”kata Si Titin.
“Gini Mas…..”
Aku menunggu.
“Terus terang aja, kita perlu duit sekarang. Kalo Mas bisa nolong, Ririn bisa nemenin Mas sejam….”kata Mimin pelan dan terpatah-patah.
Rada kaget juga Aku, tak kusangka begitu “langsung”.
“Duit sih ada…. cuman, tergantung….”
“Tergantung apa?”bertiga buka suara.
“Tergantung berapa yang kalian perlukan”
“Gopek”kata Mimin.
Lima ratus ribu? Buat sejam? Wah…. Ririn memang cakep, bodynya bikin horny, tapi kalau cuman sejam…. rugi bandar.
“Gini aja. Entar sore pulang kantor aja kalian ke sini. Kalau cuman sejam sih…. engga puas…”kataku.
“Orang perlunya sekarang…. lagian Mas kan cuma punya waktu sejam”
“Makanya entar sore aja….” Perkara Si Ajie, teman sekamarku, entar gimana nanti saja.
“Kita maunya sekarang Mas…. kalau mas gak bisa ya gapapa”
Take it or leave it nih ceritanya. OK, I’ll take it.
“OK, tapi kalau cuman sejam ya jangan gopek dong….”kataku masih coba bertahan.
“Eeh… pake nawar lagi…. Udahlah 400, mau ngga”
“Okay…okay….”kataku cepat, khawatir kehilangan peluang mencicipi tubuh Ririn.

“Silakan Rin….. show time !” kata Titin.
Ririn bangkit dari duduknya dan menghampiriku yang masih tetap duduk. Tubuhnya diselipkan di antara kakiku dan dia memeluk. Aku balas memeluk tubuhnya dengan erat sehingga wajahku menempel erat di dadanya. Wow…. dada yang padat, walau tak begitu besar.
Ririn mengendorkan pelukannya dan tangannya membuka kancing blouse-nya. Sebelum Aku sempat menciumi dadanya, Ririn dengan sigap telah mengeluarkan sebelah buah dada dari mangkuk bra-nya. Kuciumi buah dadanya. Buah dada yang padat dibungkus oleh kulit yang mulus. Penisku langsung tegang. Sebelum berlanjut Aku ingat sesuatu.
“Kalian keluar dong…”kataku pada Mimin dan Tintin.
“Gapapa…. terusin aja….santai aja. Kita engga ngeliat kok”Mimin mengambil koran dan Titin kontan membaca buku hotel manual.
“Masa ditontonin…”protesku.
“Habis…. gak enak kan kita kembali ke restoran ato nunggu di lobby”kata Tintin.
“Ke kamar kalian aja”kataku.
“Kita gak nginep, tadi cuma sarapan. Itu juga dapet kupon breakfast gratis…”kata Mimin.
“Gak bakalan lihat deh. Beneran”sambungnya.

Kuteruskan menciumi buah dada Ririn. Apa boleh buat, sudah terrangsang. Busyeet, puting mungil itu udah keras. Cepat bener kerasnya…
Kubuka blousenya dan kulepas bra-nya. Dengan rakusnya Aku menciumi kedua buah dada Ririn bergantian kanan kiri. Ririn melenguh. Tangannya meraba-raba selangkanganku.
“Udah keras….”bisiknya.
Ririn menunduk, dilepaskannya kancing celanaku dan rits-nya sekaligus, lalu dia jongkok di depanku. Ditariknya CDku kebawah dan dikeluarkannya penisku yang tegang, lalu diciuminya dari pangkal sampai ke ujung dan balik lagi ke bawah. Setelah itu lidahnya mulai bermain menjilati batangku lalu palkon-ku. Beberapa saat kemudian dia baru memasukkan penisku ke mulutnya. Aku senang cara dia memainkan kelaminku. Tidak langsung-kulum seperti wanita pemijat atau cewe bayaran pada umumnya. Cara mengulumpun begitu telaten, tak ada yang terlewat sesentipun, termasuk my ‘dragon balls’. Sampai-sampai Aku hampir tak bisa menahan diri.

Kuraih tubuhnya dan kubaringkan ke kasur. Aku mencopoti seluruh pakainku, tak peduli apakah Titin dan Mimin melihatnya.
Kutindih tubuhnya, kembali Aku menciumi buah dadanya. lalu pindah ke atas, mulai dengan mencium keningnya, hidungnya, bibirnya agak lama sebelum turun ke lehernya. Ririn merintih. Entah rintihan artifisial atau asli, Aku tak peduli. Aku kembali ke dadanya, tak bosannya Aku menciumi kedua bola mulus ini. Putingnya semakin mengacung keras. Ke bawah lagi Aku menciumi pusar dan daerah perut. Lalu kulepas celana jeans-nya sekaligus CD Ririn terrenggut.

Wow….
Gundukan kewanitaan itu begitu halus nyaris tak berbulu. Bulu-bulunya yang halus bukan hasil cukuran, tapi menandakan memang baru tumbuh. Tak tahan lagi Aku untuk segera menciuminya. Tak tercium bau yang mengganggu, bahkan ada aroma “wangi” yang khas kewanitaan milik remaja. Sehingga kuputuskan untuk terus mengeksplorasi daerah vital ini dengan mulut dan lidahku. Hal yang diluar kebiasaanku. Selama ini Aku belum pernah menciumi vagina wanita bayaran. Untuk Ririn pengecualian.
Ririn menahan kepalaku saat lidahku mencapai “tombol” kecil kemerahan di ujung atas “garis” kewanitaan ini.
“Jangan….”rintihnya lemah. Aku tak peduli terus saja. Akhirnya cuma rintihannya saja yang terdengar. Apalagi ketika lidahku mencoba “membelah”nya, Ririn merintih. Ah….. “garis” ini nyaris tak berliang ! Kusapu garis vertikal ini dengan lidahku berulang sampai lembab membasah.
Saatnya untuk mulai, waktunya buat penetrasi. Kondom ! Celaka, tak ada persediaan, memang tak ada niat sih… Bagaimana lagi, sudah sampai pada “saat yang tak mungkin surut” begini, terjun bebas saja tanpa parasut, toh sejauh ini bisa kurasakan, kemungkinan besar tubuh wanita muda ini “bersih” dari penyakit
Aku bangkit dari selangkangannya. Kuluruskan tubuhnya yang miring karena berkelojotan dan kubentang lebar-lebar pahanya, lalu Aku bertumpu pada kedua lututku, siap tembak.

Tiba-tiba, sepasang tangan menahan pinggulku yang hendak kurebahkan. Aku menoleh kebelakang. tangan tadi milik Mimin.
“Mas…. ke Aku aja ya….”kata Mimin lirih.
Aku sudah tentu kaget, bengong sebentar mempelajari apa yang terjadi. Bersamaan dengan itu, Ririn dengan sigapnya menghindar dari kungkunganku dan setengah berlari menuju sofa dan duduk. Mimin merebahkan tubuhnya menggantikan posisi Ririn. Dia masih mengenakan blouse-nya tapi pinggang ke bawah sudah terbuka. Entah kapan dia melepaskan rok dan celana dalamnya.
“Masukin Mas….”katanya.
Aku masih terheran-heran.
“Ririn belum pernah ML Mas…. dia masih perawan….”jelasnya.
“Iya Mas,….. kasihan dia dong….”sahut Titin.
“Lhah…. kenapa tadi ngasih dia ke Aku”
“Habis Mas kan milih dia”lanjut Titin yang ternyata telah membuka kancing bajunya juga sehingga tampak belahan dadanya.
Belum sempat Aku protes, Mimin sudah menyambut kelaminku dengan mulutnya, dan menguluminya. Penisku yang tadi sempat turun ketegangannya karena peristiwa “wanita pengganti” ini mulai menegang lagi.

Apa boleh buat. Sikat saja yang terlihat, kewanitaan Mimin yang lebat …. tapi tunggu dulu. Segera kutelanjangi Mimin. Buah dadanya memang bulat besar. Kuciumi sampai dia menggelinjang. Akhirnya kumasuki tubuh Mimin, tanpa kondom. Aku memompa, Mimin mengerang.
Setelah beberapa menit berlalu….
“Gantian…. kamu di atas” Kami bergulingan berganti posisi dan menjaga agar tubuh tetap bersatu.
Aku terlentang dan Mimin kini menduduki tubuhku. Tubuhnya naik-turun maju-mundur, kedua bola di dadanya berguncang. Aku menikmati layanan Mimin sambil meremas-remas susu bulatnya.

Aha, sekilas ekor mataku menangkap Titin yang sedang memasukkan sebelah telapak tangannya ke dalam dadanya. Matanya terpejam. Sedangkan Ririn, matanya melotot mengamati pergerakan “piston” yang tak jauh di depan hidungnya. Kalau benar dia masih perawan, sungguh berani dia ambil resiko menyediakan tubuhnya buat ‘hidangan pembuka’. Dan Titin… tampaknya dia mulai ikut terrangsang menonton pertunjukan ‘live’ku. Sekarang sebelah tangannya lagi malah menyusup ke celananya…

Rasanya Aku masih membutuhkan waktu agak lama lagi untuk sampai puncak, walaupun gerak tubuh Mimin sudah demikian liar. Mungkin karena Aku pasif menerima ‘urutan’ tanpa usaha, atau karena milik Mimin ini kurasakan rada longgar ?
“Ganti posisi….”perintahku.
Mimin melepaskan diri dan turun dari tubuhku. Kusuruh dia menungging untuk doggie style. Aku menusuk dari belakang. Beberapa saat berlalu Aku belum juga merasakan ‘cenut-cenut’ pada kelaminku tanda orgasme. Maka kurapatkan paha Mimin dan kugenjot lagi. Nah… kali ini lumayan berasa. Aku jadi “aktif bekerja” sampai tak sempat menoleh ke belakang sekedar mengecek apa yang sedang dilakukan oleh Titin dan Ririn di belakangku. Tapi kurasakan Aku mulai merambat naik-naik ke puncak rasa. Setelah kurasakan nyaris jebol …..

“Ganti lagi ya ….”
Untungnya Mimin nurut saja apa yang kuminta. Aku sekarang ingin posisi standar, posisi missionarist, sebab pada posisi ini sambil pelukan kencang adalah saat terbaik untuk ‘penembakan’, menurutku. Jadi, kedua belah tanganku melingkar di bawah punggungnya Beberapa kali tusuk-tarik memang menambah rambatanku. Tapi sebelum Aku mengayuh lebih cepat ada sesuatu yang perlu konfirmasi.
“Keluarin di dalam…?”tanyaku berbisik sambil terengah-engah.
Mimin mengangguk-angguk beberapa kali. Matanya terpejam, tampaknya menikmati sodokanku.
Kalau diibaratkan pelari jarak menengah, 1.500 meter misalnya, pada seratus meter terakhir saatnya melakukan sprint. Aku mulai sprint dengan RPM tertinggi. Dan …. mencapai puncak dengan melayang-layang ….

***

Beberapa menit berikutnya Aku masih menelungkupi tubuh Mimin sampai kelaminku kembali normal dan lepas dengan sendirinya. Lalu Aku rebah lelah di samping tubuhnya. Kulihat Titin masih dengan tangan di dalam celananya, dan Sang Perawan masih saja bugil dengan tatapan mata yang susah ditebak.

Mimin bangkit langsung ke kamar mandi, Aku duduk. Titin melepas tangannya dari celana, terlihat wajahnya memerah, entah karena terrangsang atau karena malu. Ririn baru mulai berpakaian. Aku perhatikan mulai dari celana dalam, kemudian bra.
“Kenapa tadi gak diterusin”tanyaku pada Ririn.
Ririn tak menjawab, sekilas matanya menatap Titin, lalu menunduk.
“Gue harap Mas bisa ngerti….Ririn kan…..”kata Titin yang langsung kupotong.
“Iya…gue ngerti….. tapi ada syaratnya”kataku.
“Syarat apaan?”
Masih dengan bugil Aku mendekati Titin. Aku merogoh blousenya yang kancingnya masih terbuka beberapa buah. Kuremas buah dadanya, lumayan padat dan halus.
“Ih……Mas kan harus ke kantor…”katanya mencoba menarik tanganku.
“Engga….. gue cuman pengin ngeliat badan kamu aja”kataku.
“Yang lain kan dah lihat, kamu belum…”
“Ngeliat aja ya….janji!”katanya.
Titin membuka blouse dan bra-nya. Buah dada yang cukup bulat, tak sebesar punya Mimin. Putingnya agak besar dan coklat tua.
“Semuanya dong….”kataku lagi.
Titin langsung membukai celananya dan seterusnya sampai telanjang bulat. Bulu-bulu halus tapi merata di seluruh permukaan kewanitaannya. Ada kebasahan di sana.
“Hmmm…. basah juga elo”kataku. Dia cuma senyum malu.
Mimin keluar dari kamar mandi, masih bugil.
“Ronde kedua nih….”kata Mimin.
“Enggaaaa….”sahut Titin.

Hah… sudah jam 9, Aku musti ngantor. Kusiapkan uang sesuai perjanjian dan kuberikan pada Mimin.
“Bukannya ngusir nih…. kalian tahu kan gue musti ngantor….”
Mereka cepat-cepat berpakaian, Ririn urung mandi. Setelah mereka semua keluar kamar barulah Aku mandi. Ini mandi yang kedua sepagi ini. Juga sepagi ini Aku sudah “sarapan” yang kedua. Dalam taksi Aku baru teringat, tadi Aku tak minta nomor HP. dasar pelupa. Ingatan berikutnya adalah yang membuatku cemas. Tadi Aku terjun bebas tanpa pelindung, bagaimana kalau Mimin ternyata “tidak bersih”? Lebih lagi, bagaimana kalau dia hamil dan menuntut tanggungjawab ? Ah…. pusing Aku.

Untunglah, seminggu kemudian “adik”ku aman-aman saja, tak ada tanda-tanda kena ‘patil’. Cuma, masalah keluar di dalam Aku belum mendapatkan kepastian. Kumaha engke …..

3 Responses to Breakfast , Breakfast and ‘Breakfast’

  1. ridwan says:

    Ridwan 085782012497

  2. riswan says:

    riswan 087886801456 – 08572164151mr p.dim 4cm pjl 17cm free sex phonsex live sex….stw

  3. mantap bro gw suka bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: